Selasa, 18 Oktober 2022

Mengapa Merasa Diri Suci Itu Dilarang?


Bismillaahir rohmaanir rohiim
Konon di hari kiamat nanti, di depan mahkamah akhirat, ada seorang peternak sapi yang diadili secara bersama dengan seorang kiai, kebetulan antara keduanya mereka mati hampir secara bersamaan  pada sebuah kampung yang sama pula.
Setelah menimbang prestasi dan seluruh karya-karyanya. Tuhan tersenyum kepada sang peternak sapi lalu bersabda “Bagus sekali karyamu di dunia wahai peternak. Kamu pantas mendapat surga dengan nomor 424”. Lalu diisyaratkan kepada dua malaikat yang sedang piket untuk membimbingnya menuju surga di lantai 4 kamar 24.
Kiai yang antri persis di belakang sang peternak sapi itu heran. “Bagaimana mungkin sang peternak sapi yang cuma ke masjid seminggu sekali, dan itu pun datangnya selalu terlambat, kok bisa masuk
Baca selengkapnya »

Label: , , , , ,


.. selengkapnya ..!

Rabu, 15 April 2015

INDAHNYA KASIH SAYANG

Bismillahir rohmaanir rohiim
Mahasuci Allah, zat yang mengaruniakan kasih sayang kepada makhluk-makhluk-Nya. Tidaklah kasih sayang melekat pada diri seseorang, kecuali akan memperindah orang tersebut, dan tidaklah kasih sayang akan terlepas dari diri seseorang, kecuali akan memperburuk dan menghinakan orang tersebut.
Betapa tidak? Jikalau kemampuan kita menyayangi orang lain tercabut, maka itulah biang dari segala bencana, karena kasih sayang Allah Azza wa Jalla ternyata hanya akan diberikan kepada orang-orang yang masih hidup kasih sayang di qolbunya.
Baca selengkapnya »

Label: , , , , , , , , ,


.. selengkapnya ..!

Rabu, 21 November 2012

Melayani Tuhan

Bismillaahir rohmaanir rohiim
Ada cerita sufi yang menarik. Ceritanya dikemas secara sederhana namun bernuansa humor, sehingga mudah dikenang.  Cerita ini pas untuk memudahkan dalam memahami pesan moral dari kandungan Al Qur’an Surat Adzariyat 56 mohon lanjut ke judul Adz Dzariyat 56

Label: , , , , , , ,


.. selengkapnya ..!

Senin, 05 April 2010

Mengelola Hati

Bismillahirrohmaanirrohiim
Dalam kitab Ihya’ Ululmuddiin, Imam Ghozali memberikan penjelasan bahwa perkembangan rohani menuju hati yang sehat itu mirip dengan perkembangan badan. Badan akan berkembang dengan baik, normal dan sehat, bila memenuhi beberapa unsur pendukungnya, seperti makan makanan yang sehat, olah raga yang baik dan teratur, menjaga dari hal-hal yang dapat menyebabkan sakit atau celaka.
Mengurangi unsur-unsur pendukung itu akan menyebabkan tumbuhnya badan menjadi tidak normal. Misalnya tidak makan, maka meskipun badan dapat tumbuh, namun tumbuhnya tidak akan bisa ideal. Atau makan tapi tidak bergerak, juga dapat menyebabkan tumbuhnya badan menjadi tidak normal. Atau diberi makan dan dipakai olah raga, tapi tidak menjaga dari yang menyebabkan sakit dan celaka, maka itu pun dapat menyebabkan tumbuhnya badan menjadi tidak optimal.


Demikian pula dengan rohani, ia perlu mendapat asupan makanan berupa ilmu. Ilmu yang masuk harus ilmu yang menyehatkan, sebab input ilmu itu akan mempengaruhi output mindset dan tindakannya. Apa nutrisi ilmu yang dimasukkan akan mempengaruhi apa yang akan dilakukannya. Seperti orang yang memasukkan pengertian bahwa time is money, maka ia akan selalu berpikir untung rugi, hubungan yang dibangun dengan orang lain menjadi lebih transaksional daripada emosional. Dia akan menjalin hubungan dengan seseorang selama ia menguntungkan, bila sudah tidak lagi menguntungkan, maka hubungannya akan ia putus.
Orang yang memasukkan pengertian bahwa hidup bahagia itu seperti orang barat, maka ia akan mengkopi gaya hidup orang barat untuk ia terapkan dalam kehidupannya dan ia akan mengukur segala sesuatu itu dengan kaca mata budaya barat.
Orang yang memasukkan pengertian bahwa agama adalah way of life, maka ia akan bertindak sesuai dengan ajaran agama dan ia pun akan mengukur segala sesuatu itu dengan kaca mata agama. Oleh karena itu, hendaklah selektif dalam memasukkan ilmu, pilihlah ilmu yang menyehatkan rohani/ hati agar hati kita menjadi hati yang sehat dan selamat (qolbun saliim).
Kalau badan butuh oleh raga, maka rohani / hati pun juga butuh olah hati, yaitu berupa pembiasaan yang baik dan teratur, seperti solat; solat yang baik itu tidak hanya sekedar menjalankan, tapi dijalankan dengan khusyuk atau penuh dengan kesadaran, memahami apa yang dibaca dan memahami simbol dari gerakan yang dilakukan. Gerakan-gerakan dalam solat itu adalah bentuk dari jenis-jenis penghormatan. Oleh sebab itu, perasaan menghormat ini hendaknya dihayati, sehingga menimbulkan perasaan khusyuk.
Solat juga harus teratur, artinya sedapat mungkin berjamaah untuk solat yang fardlu, sedang untuk solat sunah hendaknya juga teratur dilakukan, seperti solat malam, dhuha, rowatib dan tahiyyatul masjid.
Termasuk dalam kategori olah hati adalah zikir. Zikir ini tidak sekedar menghafal bacaan dengan menggerakkan mulut seperti ikan mujahir atau sapi, tapi ada penghayatan di dalam hati. Zikir juga bukan sekedar melafalkan bacaan-bacaan tertentu, tapi semua aktifitas yang mengingatkan diri kepada Allah, bentuk aktifitasnya bisa berupa berpikir, mengamati sesuatu, bekerja, berdiskusi, membaca Al Qur’an dan sebagainya.
Rohani/hati juga butuh treatment, menjaga dari hal-hal yang menyebabkan sakit atau celaka. Seperti menjaga hati dari iri, dusta, dendam, bakhil, mengeluh/ tidak bersyukur, ghibah /gosip, membuka aib orang, sombong, ujub dan lain-lain. Penyakit-penyakit hati ini harus diobati supaya membuat hati menjadi sehat.
Caranya adalah dengan membiasakan lawan dari penyakit itu. Misalnya sakit sombong, harus diobati dengan membiasakan sikap rendah hati. Iri harus diobati dengan membiasakan sikap qonaah. Dendam diobati dengan membiasakan memaafkan. Dusta diobati dengan membiasakan kejujuran. Bakhil diobati dengan membiasakan sedekah. Mengeluh diobati dengan membiasakan banyak bersyukur, dan seterusnya.
Mengobati penyakit-penyakit hati ini butuh waktu, prosesnya tergantung kadar dari penyakitnya. Kalau ringan ya akan cepat sembuh, kalau sudah kronis ya butuh waktu yang lebih lama dan terapi yang khusus serta ketekunan dan kesabaran pasien. Bahkan kadang perlu berobat ke dokter hati yang ahli kalau memang dibutuhkan.
Puasa, makan tidak sampai kenyang benar, mengurangi bicara, mengurangi hal yang sia-sia, menjaga makan dari yang syubhat dan kumpul dengan orang solih juga dapat menjadi cara untuk mentreatment hati dari penyakit-penyakit hati.
Demikian ulasan sederhana ini, semoga bermanfaat bagi kita semua dan semoga kita senantiasa diberi kekuatan dan pertolongan oleh Allah sehingga kita dapat mengelola hati kita menjadi hati yang sehat dan selamat. Amien ya robbal ‘alamien
Salam Sukses Bahagia
By Nur Muhid


Ingin Umroh??? Ada kendala biaya???? Mau kerja  sampingan????
Silakan kontak 0852 2580 5657

Label: ,


.. selengkapnya ..!

Senin, 22 Maret 2010

Ikhlas 2

Bismillahirrohmaanirrohiim
Untuk memahamkan suatu masalah itu kadang perlu banyak contoh atau ibarat, karena dengan ibarat-ibarat itu, orang akan menjadi mudah merasakan gambaran yang dimaksud atau memperjelas pemahaman terhadap persoalan tertentu, sehingga dengan demikian akan menghindari pemahaman yang salah.
Jaman dulu, menjadikan budak sebagai hadiah kepada orang yang terhormat itu sudah menjadi hal yang biasa dan tidak tabu. Bukti bahwa itu dulu benar terjadi adalah bahwa nabi Muhammad pernah mendapat hadiah berupa budak wanita yang bernama Maria Al-Qabtiyya dari raja Mesir.
Sekarang tradisi itu masih juga diterapkan, namun mereka malu bila hal itu dikatahui oleh masyarakat umum, karena yang diberikan itu bukan budak dalam arti yang sebenarnya, tapi “budak” nafsu berupa wanita muda layaknya lonte, contohnya;



ketika ada acara menyambut kunjungan dari atasan di hotel mewah, diberinya pula ‘welcome fruit’ berupa wanita cantik atau contoh lainnya; ketika orang ingin mendapat tender, ia akan memberi hadiah macam-macam termasuk hadiah yang berupa ‘budak’ itu kepada pimpro (pimpinan proyek) atau semacamnya, supaya ia diberi tender atau dimenangkan dalam lelang tendernya.
Kembali ke soal ikhlas. Beribadah itu ibarat memberi hadiah, begitulah kata Imam Ghozali. Bila kita beribadah dengan benar secara syariat/fiqih itu ibarat memberi hadiah berupa budak yang cantik. Dan jika kita beribadah dengan ikhlas dan hadir hatinya itu ibarat memberi hadiah berupa sesuatu yang bernyawa.
Jadi, bila kita beribadah namun hati kita tidak ikhlas dan tidak hadir hatinya, itu ibarat seperti kita memberikan hadiah berupa budak yang tanpa nyawa. Bayangkanlah bila yang diberi hadiah itu adalah manusia pada umumnya, maka ketika diberi hadiah seperti itu, meskipun mayat budak wanita itu cantik, atau gagah dan besar kalau budak itu pria, mungkin satu sisi ia senang karena dihormati dengan diberi hadiah, tapi pada sisi yang lain ia juga sedih karena tahu bahwa hadiahnya itu hanya akan menambah kerepotannya saja. Sebagian mungkin malah akan marah kalau diberi hadiah mayat seperti itu, karena menangkap bukan sebagai hadiah tapi sebagai bentuk penghinaan kepadanya.
Kalau selama ini kita beribadah salat dan kita merasa cukup hanya dengan khusyuk ketika takbir saja, dengan alasan bahwa bagi orang awam itu sudah dianggap khusyuk semua salatnya asal pada saat takbir sudah khusyuk. Itu bisa diibaratkan seperti memberi hadiah berupa budak yang lumpuh separo tubuhnya. Lalu untuk apakah hadiah yang seperti itu? Dipanjang di ruang tamu, tidak layak. Ditaruh di kamar, malah merepotkan. Disimpan di gudang, bukan barang mati. Jadi, pada hakekatnya hadiah yang semacam ini hanya akan menambah beban yang tidak menyenangkan saja.
Kesimpulannya; marilah kita senantiasa berupaya untuk dapat beribadah secara sempurna baik secara lahir maupun batin. Tidak merasa cukup hanya dengan sudah bisa beribadah secara sempurna, namun ternyata baru sempurna secara syariat saja. Ambil “hati” Tuhan dengan mempersembahkan yang terbaik.
Demikian ulasan sederhana ini, semoga bermanfaat bagi kita semua dan semoga kita senantiasa diberi kekuatan dan pertolongan Allah sehingga kita dapat beramal dengan ikhlas semata-mata karena Allah saja. Amien ya robbal ‘alamien
Salam Sukses Bahagia
By Nur Muhid


Ingin Umroh??? Ada kendala biaya???? Mau kerja  sampingan????
Silakan kontak 0852 2580 5657

Label: , , ,


.. selengkapnya ..!