Senin, 05 April 2010

Mengelola Hati

Bismillahirrohmaanirrohiim
Dalam kitab Ihya’ Ululmuddiin, Imam Ghozali memberikan penjelasan bahwa perkembangan rohani menuju hati yang sehat itu mirip dengan perkembangan badan. Badan akan berkembang dengan baik, normal dan sehat, bila memenuhi beberapa unsur pendukungnya, seperti makan makanan yang sehat, olah raga yang baik dan teratur, menjaga dari hal-hal yang dapat menyebabkan sakit atau celaka.
Mengurangi unsur-unsur pendukung itu akan menyebabkan tumbuhnya badan menjadi tidak normal. Misalnya tidak makan, maka meskipun badan dapat tumbuh, namun tumbuhnya tidak akan bisa ideal. Atau makan tapi tidak bergerak, juga dapat menyebabkan tumbuhnya badan menjadi tidak normal. Atau diberi makan dan dipakai olah raga, tapi tidak menjaga dari yang menyebabkan sakit dan celaka, maka itu pun dapat menyebabkan tumbuhnya badan menjadi tidak optimal.


Demikian pula dengan rohani, ia perlu mendapat asupan makanan berupa ilmu. Ilmu yang masuk harus ilmu yang menyehatkan, sebab input ilmu itu akan mempengaruhi output mindset dan tindakannya. Apa nutrisi ilmu yang dimasukkan akan mempengaruhi apa yang akan dilakukannya. Seperti orang yang memasukkan pengertian bahwa time is money, maka ia akan selalu berpikir untung rugi, hubungan yang dibangun dengan orang lain menjadi lebih transaksional daripada emosional. Dia akan menjalin hubungan dengan seseorang selama ia menguntungkan, bila sudah tidak lagi menguntungkan, maka hubungannya akan ia putus.
Orang yang memasukkan pengertian bahwa hidup bahagia itu seperti orang barat, maka ia akan mengkopi gaya hidup orang barat untuk ia terapkan dalam kehidupannya dan ia akan mengukur segala sesuatu itu dengan kaca mata budaya barat.
Orang yang memasukkan pengertian bahwa agama adalah way of life, maka ia akan bertindak sesuai dengan ajaran agama dan ia pun akan mengukur segala sesuatu itu dengan kaca mata agama. Oleh karena itu, hendaklah selektif dalam memasukkan ilmu, pilihlah ilmu yang menyehatkan rohani/ hati agar hati kita menjadi hati yang sehat dan selamat (qolbun saliim).
Kalau badan butuh oleh raga, maka rohani / hati pun juga butuh olah hati, yaitu berupa pembiasaan yang baik dan teratur, seperti solat; solat yang baik itu tidak hanya sekedar menjalankan, tapi dijalankan dengan khusyuk atau penuh dengan kesadaran, memahami apa yang dibaca dan memahami simbol dari gerakan yang dilakukan. Gerakan-gerakan dalam solat itu adalah bentuk dari jenis-jenis penghormatan. Oleh sebab itu, perasaan menghormat ini hendaknya dihayati, sehingga menimbulkan perasaan khusyuk.
Solat juga harus teratur, artinya sedapat mungkin berjamaah untuk solat yang fardlu, sedang untuk solat sunah hendaknya juga teratur dilakukan, seperti solat malam, dhuha, rowatib dan tahiyyatul masjid.
Termasuk dalam kategori olah hati adalah zikir. Zikir ini tidak sekedar menghafal bacaan dengan menggerakkan mulut seperti ikan mujahir atau sapi, tapi ada penghayatan di dalam hati. Zikir juga bukan sekedar melafalkan bacaan-bacaan tertentu, tapi semua aktifitas yang mengingatkan diri kepada Allah, bentuk aktifitasnya bisa berupa berpikir, mengamati sesuatu, bekerja, berdiskusi, membaca Al Qur’an dan sebagainya.
Rohani/hati juga butuh treatment, menjaga dari hal-hal yang menyebabkan sakit atau celaka. Seperti menjaga hati dari iri, dusta, dendam, bakhil, mengeluh/ tidak bersyukur, ghibah /gosip, membuka aib orang, sombong, ujub dan lain-lain. Penyakit-penyakit hati ini harus diobati supaya membuat hati menjadi sehat.
Caranya adalah dengan membiasakan lawan dari penyakit itu. Misalnya sakit sombong, harus diobati dengan membiasakan sikap rendah hati. Iri harus diobati dengan membiasakan sikap qonaah. Dendam diobati dengan membiasakan memaafkan. Dusta diobati dengan membiasakan kejujuran. Bakhil diobati dengan membiasakan sedekah. Mengeluh diobati dengan membiasakan banyak bersyukur, dan seterusnya.
Mengobati penyakit-penyakit hati ini butuh waktu, prosesnya tergantung kadar dari penyakitnya. Kalau ringan ya akan cepat sembuh, kalau sudah kronis ya butuh waktu yang lebih lama dan terapi yang khusus serta ketekunan dan kesabaran pasien. Bahkan kadang perlu berobat ke dokter hati yang ahli kalau memang dibutuhkan.
Puasa, makan tidak sampai kenyang benar, mengurangi bicara, mengurangi hal yang sia-sia, menjaga makan dari yang syubhat dan kumpul dengan orang solih juga dapat menjadi cara untuk mentreatment hati dari penyakit-penyakit hati.
Demikian ulasan sederhana ini, semoga bermanfaat bagi kita semua dan semoga kita senantiasa diberi kekuatan dan pertolongan oleh Allah sehingga kita dapat mengelola hati kita menjadi hati yang sehat dan selamat. Amien ya robbal ‘alamien
Salam Sukses Bahagia
By Nur Muhid


Ingin Umroh??? Ada kendala biaya???? Mau kerja  sampingan????
Silakan kontak 0852 2580 5657

Label: ,


.. selengkapnya ..!

Senin, 22 Maret 2010

Ikhlas 2

Bismillahirrohmaanirrohiim
Untuk memahamkan suatu masalah itu kadang perlu banyak contoh atau ibarat, karena dengan ibarat-ibarat itu, orang akan menjadi mudah merasakan gambaran yang dimaksud atau memperjelas pemahaman terhadap persoalan tertentu, sehingga dengan demikian akan menghindari pemahaman yang salah.
Jaman dulu, menjadikan budak sebagai hadiah kepada orang yang terhormat itu sudah menjadi hal yang biasa dan tidak tabu. Bukti bahwa itu dulu benar terjadi adalah bahwa nabi Muhammad pernah mendapat hadiah berupa budak wanita yang bernama Maria Al-Qabtiyya dari raja Mesir.
Sekarang tradisi itu masih juga diterapkan, namun mereka malu bila hal itu dikatahui oleh masyarakat umum, karena yang diberikan itu bukan budak dalam arti yang sebenarnya, tapi “budak” nafsu berupa wanita muda layaknya lonte, contohnya;



ketika ada acara menyambut kunjungan dari atasan di hotel mewah, diberinya pula ‘welcome fruit’ berupa wanita cantik atau contoh lainnya; ketika orang ingin mendapat tender, ia akan memberi hadiah macam-macam termasuk hadiah yang berupa ‘budak’ itu kepada pimpro (pimpinan proyek) atau semacamnya, supaya ia diberi tender atau dimenangkan dalam lelang tendernya.
Kembali ke soal ikhlas. Beribadah itu ibarat memberi hadiah, begitulah kata Imam Ghozali. Bila kita beribadah dengan benar secara syariat/fiqih itu ibarat memberi hadiah berupa budak yang cantik. Dan jika kita beribadah dengan ikhlas dan hadir hatinya itu ibarat memberi hadiah berupa sesuatu yang bernyawa.
Jadi, bila kita beribadah namun hati kita tidak ikhlas dan tidak hadir hatinya, itu ibarat seperti kita memberikan hadiah berupa budak yang tanpa nyawa. Bayangkanlah bila yang diberi hadiah itu adalah manusia pada umumnya, maka ketika diberi hadiah seperti itu, meskipun mayat budak wanita itu cantik, atau gagah dan besar kalau budak itu pria, mungkin satu sisi ia senang karena dihormati dengan diberi hadiah, tapi pada sisi yang lain ia juga sedih karena tahu bahwa hadiahnya itu hanya akan menambah kerepotannya saja. Sebagian mungkin malah akan marah kalau diberi hadiah mayat seperti itu, karena menangkap bukan sebagai hadiah tapi sebagai bentuk penghinaan kepadanya.
Kalau selama ini kita beribadah salat dan kita merasa cukup hanya dengan khusyuk ketika takbir saja, dengan alasan bahwa bagi orang awam itu sudah dianggap khusyuk semua salatnya asal pada saat takbir sudah khusyuk. Itu bisa diibaratkan seperti memberi hadiah berupa budak yang lumpuh separo tubuhnya. Lalu untuk apakah hadiah yang seperti itu? Dipanjang di ruang tamu, tidak layak. Ditaruh di kamar, malah merepotkan. Disimpan di gudang, bukan barang mati. Jadi, pada hakekatnya hadiah yang semacam ini hanya akan menambah beban yang tidak menyenangkan saja.
Kesimpulannya; marilah kita senantiasa berupaya untuk dapat beribadah secara sempurna baik secara lahir maupun batin. Tidak merasa cukup hanya dengan sudah bisa beribadah secara sempurna, namun ternyata baru sempurna secara syariat saja. Ambil “hati” Tuhan dengan mempersembahkan yang terbaik.
Demikian ulasan sederhana ini, semoga bermanfaat bagi kita semua dan semoga kita senantiasa diberi kekuatan dan pertolongan Allah sehingga kita dapat beramal dengan ikhlas semata-mata karena Allah saja. Amien ya robbal ‘alamien
Salam Sukses Bahagia
By Nur Muhid


Ingin Umroh??? Ada kendala biaya???? Mau kerja  sampingan????
Silakan kontak 0852 2580 5657

Label: , , ,


.. selengkapnya ..!

Jumat, 12 Maret 2010

Khusyuk Dalam Beramal

Bismillaahirrohmaanirrohiim
Imam Ghozali memberikan gambaran bahwa amal ibadah itu ibarat memberi hadiah kepada seseorang yang terhormat. Pada umumnya dan seharusnya kalau memberi hadiah kepada orang yang terhormat itu ya berupa sesuatu yang berharga atau yang baik. Mengapa demikian? Sebab, selera orang terhormat itu tinggi dan apa-apa yang telah dipunyai olehnya itu adalah barang yang bagus-bagus serta mampu membeli barang yang mahal, sehingga wajar bila ia tidak atau kurang berkenan menerima hadiah yang biasa-biasa saja apalagi kalau yang buruk dan murahan.
Perlu diingat bahwa tujuan dari memberi hadiah itu adalah supaya yang diberi hadiah itu senang pada hadiah tersebut, yang dengan senangnya pada hadiah itu, akan membuat yang diberi hadiah menjadi senang juga kepada orang yang memberi hadiah. Dengan kata lain tujuan memberi hadiah adalah supaya terwujud adanya kedekatan secara emosional


antara si pemberi dan penerima hadiah. Jadi, jika kita memberi hadiah kepada seseorang, namun orang yang kita beri itu kurang/tidak berkenan dengan hadiah itu, maka menjadi percuma saja pemberian hadiah tersebut. Karena tujuan dari memberi hadiah itu tidak tercapai.
Salat yang kita lakukan setiap hari itu adalah bentuk hadiah yang kita persembahkan kepada Allah. Hadiah itu kita persembahkan supaya kita menjadi lebih dekat kepada Allah. Bila kita sudah memberi hadiah setiap hari tapi rasa kedekatan kita kepada Allah kok tidak bertambah, masih mudah tersinggung, mudah marah, suka memaksakan kehendak, riya dalam beramal, sombong, gila hormat, mudah mengeluh, dusta dan lainnya, maka kita perlu introspeksi pada salat kita. Jangan-jangan hadiah yang kita persembahkan itu termasuk kategori yang buruk dan murahan atau salah cara menyampaikannya, sebab dalam kita melakukan salat itu masih sebatas hanya fisik yang menghadap Allah, tapi hati dan pikiran kita masih mengembara ke mana-mana.
Bisa diibaratkan bahwa melakukan salat yang tidak khusyuk itu seperti memberi hadiah kepada presdien dengan cara memalingkan mukanya ke tempat lain seperti ada kesan bahwa ia tidak sudi melihat wajah beliau. Tentu saja, sebaik apa pun hadiah yang dipersembahkan, bila cara menyampaikannya tidak dengan hormat seperti itu, maka beliau tidak akan berkenan menerimanya. Sebab beliau mempunyai harga diri dan mampu membeli barang yang lebih baik daripada barang yang dihadiahkannya itu.
Ingatlah hadits nabi yang menyatakan bahwa “Berapa banyak dari orang yang menjalankan salat, mereka tidak mendapat apa-apa dari salatnya kecuali kepayahan”
“Berapa banyak dari orang yang berpuasa, mereka tidak mendapat apa-apa dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga”
Jadi, amal ibadah yang kita lakukan itu sebaiknya benar secara syariat dan benar juga secara hakekat atau betul secara fiqih dan betul juga secara tasawuf atau benar secara lahir dan benar juga secara batin. Betul secara syariat itu ibarat bentuk bendanya yang bagus nan indah, betul secara hakekat itu ibarat cara menyampaikan yang sopan nan santun. Sehingga dengan demikian dapat diharapkan bahwa hadiah-hadiah yang kita persembahkan itu akan diterima Allah, lalu Allah pun berkenan menaruh perhatian yang lebih kepada kita sehingga terjalin hubungan emosional yang akrab, hubungan cinta yang mesra.
Demikian ulasan sederhana ini, semoga bermanfaat bagi kita semua dan semoga kita senantiasa diberi kekuatan dan pertolongan oleh Allah supaya kita dapat beramal dengan benar secara lahir dan batin, sehingga amal ibadah kita dapat membuat Allah berkenan menerimanya, lalu Allah berkenan mencintai kita dengan cinta yang mesra. Amien ya robbal ‘alamien
Salam Sukses Bahagia
By Nur Muhid


Ingin Umroh??? Ada kendala biaya???? Mau kerja  sampingan????
Silakan kontak 0852 2580 5657

Label:


.. selengkapnya ..!

Senin, 08 Maret 2010

Ikhlas 1

Bismillaahirrohmaanirrohiim
Di dalam kitab Hikam disebutkan bahwa
الاعمال صورة قاءمة وارواحها وجود سرالاخلاص فيها
Artinya “Amal itu adalah gambar yang tegak dan ruh dari amal adalah adanya rahasia keikhlasan di dalamnya.” Tegasnya dapat diterjemahkan bahwa amal itu seperti jasad sedang ruhnya adalah ikhlas. Jasad tanpa ruh itu meskipun menarik tapi tingkat kemenarikannya akan kalah jauh dibandingkan dengan jasad yang ada ruhnya. Dari sisi manfaatnya pun demikian, jasad yang tanpa ruh itu amat kecil kegunaannya dibandingkan dengan jasad yang lengkap dengan ruhnya.
Jadi amal ibadah apa pun nama dan bentuknya, yang tidak disertai dengan rasa ikhlas dalam menjalankannya, maka dampak dari manfaat amal tersebut akan kecil sekali kepada si pelakunya. Seperti puasa, manfaat puasa itu antara lain adalah

dapat menumbuhkan rasa kepekaan sosial, tapi berapa banyak orang yang menjalankan puasa hanya mendapat rasa lapar dan dahaga saja, pelaku puasanya tidak mendapat pengaruh dari puasanya, mereka masih saja tega “menindas” yang lain, kepekaan sosial mereka tetap rendah.
Perlu digaris bawahi bahwa tuntunan beramal dengan ikhlas itu mengharuskan si pelaku amal itu tulus menyerah kepada ketentuan-ketentuan syariat dengan sebaik-baiknya dan seutuh-utuhnya, baik secara lahir maupun batin, atau secara fiqih maupun tasawufnya. Misalnya puasa, orang yang ikhlas dalam menjalankan puasanya, maka ia harus dapat menjaga dari hal-hal yang membatalkan puasa secara fiqih, seperti; makan, minum, bersetubuh dengan sengaja di siang hari tapi juga harus dapat menjaga dari hal-hal yang membatalkan pahala puasa secara tasawuf, seperti; berdusta, ghibah (gosip), namimah (mengadu domba/memprovokasi), melihat dengan syahwat dan sumpah palsu.
Imam Ghozali membagi kategori ikhlas dalam dua bagian. Pertama; (الاخلاص لاجل ثواب) ikhlas karena mengharap balasan/pahala, contohnya; orang yang membaca Al Qur’an surat Waqiah setiap pagi dan sore dengan ikhlas tapi juga mengaharap supaya rizkinya lancar. Ada orang yang aktif menjalankan salat dhuha dengan ikhlas tapi juga berharap supaya dibangunkan gedung yang indah di surga, karena adanya hadits nabi saw bahwa barang siapa yang menjalankan salat dhuha, maka Allah akan membangunkan gedung di surga. Ada orang yang ikhlas bersedekah karena Allah, tapi juga berharap agar diberi balasan yang berlipat ganda, dengan sepuluh kali lipat atau lebih.
Ikhlas pada kategori ini dapat diibaratkan seperti orang yang mau pergi ke kerajaan yang megah, tapi yang ia tuju (niat/motivasinya) hanya mau melihat keindahan keadaan istana dan ingin makan dan minum apa yang disediakan di istana. Ia tidak merasa perlu menghadap sang raja, karena keindahan pemandangan di lingkungan istana dan makanan juga minumnya telah membuat ia merasa amat terpuaskan.
Kalau ini diibaratkan orang yang mau apel ke rumah kekasihnya, ia telah merasa puas dengan apa yang telah dihidangkan, yaitu yang berupa makanan dan minuman lezat dan pembantu-pembantu cantik telah menghiburnya, ia tidak akan merasa kecewa bila kekasihnya tidak menemuinya, meskipun tujuan semula adalah apel kepada kekasihnya.
Kedua (الاخلاص العمل) ikhlas karena semata-mata ketaatan kepada Allah. Ia beramal apa pun semata-mata karena itu adalah perintah Allah. Jadi bila ia salat, maka ia menjalankannya karena salat itu adalah perintah Allah, ia menjalankan bukan karena ia takut neraka atau ingin masuk surga, tapi semata-mata menjalankan ketaatan kepada Allah. Kalau ia bersedekah, ia melakukan bukan karena agar mendapat balasan yang berlipat ganda. Kalau ia salat dhuha, bukan karena ia mengharapkan dibangunkan gedung megah di surga. Tapi semua itu ia lakukan semata-mata karena ketaannya kepada perintah-perintah Allah saja.
Kalau ini diibaratkan orang yang mau ke kerajaan yang megah, maka yang ia tuju (niat/motivasinya) adalah menemui sang raja. Karena niat semula adalah menemui sang raja, maka meskipun pemandangan istana amat indah dan makan juga minumnya amat nikmat tapi itu belum membuat ia merasa puas sebelum ia bertemu dengan sang raja.
Kalau ini diibaratkan orang yang mau apel ke rumah kekasihnya, ia tidak akan merasa puas sebelum sang kekasih menemuinya, biar pun makanan dan minuman lezat telah dihidangkan dan pembantu-pembantu cantik telah menghiburnya. Dan apa pun hidangan dan hiburannya yang disediakan untuknya, tetap masih akan membuat ia merasa kecewa bila kekasihnya tidak menemuinya.
Demikian ulasan sederhana ini, semoga bermanfaat bagi kita semua dan semoga kita senantiasa diberi kekuatan dan pertolongan Allah sehingga kita dapat beramal dengan ikhlas semata-mata karena Allah saja. Amien ya robbal ‘alamien
Salam Sukses Bahagia
By Nur muhid
-->
Ingin Umroh??? Ada kendala biaya???? Mau kerja  sampingan????
Silakan kontak  0852 2580 5657


Label:


.. selengkapnya ..!

Tip selamat dari Riya.

-->Bismillaahirrohmaanirrohiim
Di dalam AL Qur’an surat Albaqoroh ayat 264. amal perbuatan yang dilakukan dengan riya itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah/debu, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah batu itu bersih dari tanah/debu.
Sabda nabi “ sesungguhnya yang aku takutkan atas umatku bukan syirik menyembah batu, pohon, matahari. Tetapi yang aku takutkan atas umatku adalah mereka riya dalam amal mereka”
Dari dua dalil di atas menunjukkan bahwa betapa bahayanya riya. Karena amal yang dilakukan dengan riya itu tidak akan mendapat balasan apa-apa, amal menjadi percuma, sia-sia karena amal yang disangkanya akan memberi keuntungan di akhirat itu ternyata hilang tanpa bekas, bagai batu licin berdebu yang terkena hujan lebat sehingga hujan deras itu dengan sendirinya akan membersihkan debu yang menempel di atasnya.
Perdefinisi riya adalah menginginkan pujian dari manusia dengan melakukan ketaatan kepada Allah. Contohnya sedekah

yang seharusnya hanya ditujukan untuk beribadah kepada Allah semata. Ada yang menggunakan sarana ini untuk mengambil simpati dari manusia, ada kalanya orang bersedekah supaya ia dipilih ketika pemilihan lurah. Ada kalanya orang bersedekah supaya ia dianggap dermawan. Contoh lainnya adalah haji. Sudah berapa saja orang naik haji untuk mencari status sosial atau menambah gengsi.
Mengapa orang cenderung beramal dengan riya? Imam Ghozali menyatakan bahwa penyebab riya adalah adanya keinginan untuk mencari simpati dari orang lain. Nah sekarang bagaimana agar kita aman dari riya atau amal kita selamat? Imam Ghozali menjelaskan bahwa :
1. Orang yang meninggalkan taat karena taku riya adalah temannya setan.
2. Beramal dengan riya yang menjadi motivasinya seperti sedekah supaya orang simpati nanti kalau ada pemilihan takmir biar ia yang dipilih misalnya. Maka beramal model demikian adalah termasuk maksiat kepada Allah swt.
3. Beramal dengan 50% lillah – 50% ada keinginan riya. Maka amal yang demikian adalah boleh dengan catatan sembari berusaha memerangi gejala-gejala riya itu.
4. Kalau awalnya ikhlas, di tengah amal ada muncul riya, maka teruslah melakukan. Beramal jangan menunggu kalau sudah benar-benar ikhlas.
5. Beramal akan bertambah baik atau bertambah khusyuk ketika dilihat manusia, seperti ketika salat sunah di masjid yang banyak jamaahnya, bertambah khusyuk sebab banyak orang yang melihatnya, maka tetap lakukan. Yang demikian tidak masalah, bahkan dianggap baik bila dilakukan.
6. Beramal yang dipamerkan dengan motivasi supaya orang yang melihat tertarik untuk mengikutinya. Dengan catatan tetap menjaga keikhlasannya, maka yang demikian adalah dianjurkan.
7. Menceritakan amal baik kepada orang lain yang meskipun itu bertujuan memotivsi orang lain supaya beramal, sebaiknya hati-hati karena berkata-kata itu mempunyai potensi untuk menambah-nambahi atau sebaliknya. Jadi meskipun boleh namun kalau ada jalan lain yang dapat memotivasi orang lain untuk beramal baik, maka memperkatakan amal baiknya sendiri sebaiknya ditinggalkan
Sekarang bagaimana bila beramal baik atau melakukan ketaatan kepada Allah, dengan motivasi agar rizkinya lancar? Yang seperti ini tidak menggapa. Sebab ia beramal untuk Allah dan memohon juga kepada Allah. Menjadikan amal baik sebagai wasilah/lantaran untuk mendapat rizki adalah hal yang baik. Telah pula diperagakan oleh orang-orang dahulu, mereka memohon supaya dikeluarkan Allah dari kesulitan yang menghimpitnya dengan wasilah amal baik yang mereka lakukan, Allah pun mengabulkan doa-doa mereka. Akan tetapi bagi yang telah menduduki maqom/tempat yang lebih tinggi, amal yang demikian dianggap tidak baik.
Ilustrasi sederhana di bawah ini mudah-mudahan membantu pemahaman terhadap keikhlasan dalam beramal. Ibarat menanam pohon di suatu tempat, tingkat kesuburannya akan lebih tinggi kalau hanya ditanami satu pohon dibandingkan dengan ditanami dua pohon atau lebih. Maksudnya kualitas keikhlasan amal itu akan berpengaruh pada seberapa banyak akan dilipatgandakan pahalanya.
Salam Sukses Bahagia.
By Nur muhid
-->
Ingin Umroh??? Ada kendala biaya???? Mau kerja  sampingan????
Silakan kontak 0852 2580 5657


Label:


.. selengkapnya ..!